2. Lebih cenderung mencintai dunia (hal 13-14)
Kehidupan sehari-hari diukur serba uang. Siang malam bekerja keras, lupa waktu untuk ibadah, karena mengejar uang sebanyak-banyaknya, sementara mendekatkan kepada Allah bisa dilakukan kalau ada waktu senggang. Tidak sedikit orang yang mempunyai prinsip hidup, bahwa kehidupan dunia ini adalah tujuan segalanya, sehingga yang dikejar mati-matian hanyalah kepentingan dunia belaka, tetapi urusan akhirat diabaikan, karena pemikirannya sudah tertutup dengan kemewahan dunia tadi.
Mereka saling unggul-unggulan harta benda, persaingan tidak sehat dalam segala macam bidang, akhirnya timbul kecemburuan sosial. Tidak sedikit antara saudara kandung sendiri sampai tidak mau tegur sapa, bahkan sampai bertengkar gara-gara rebutan harta warisan. Banyak pedagang antar pedagang saling membunuh karena persaingan tidak sehat. Kita sering mendengar berita perampokan disertai pembunuhan, pencopetan di pasar atau angkutan umum, bahkan seringnya ada pencurian sepeda motor yang dibantai masa, kemudian dibakar, bahkan ada pula yang dibakar hidup-hidup. Semua ini adalah mencari harta, tetapi jalan yang ditempuh jauh menyimpang dari ajaran islam, sehingga akibatnya fatal.
Jadi kemewahan selalu dikejar-kejar orang, sementara bertambah jauh kepada Allah. Bila akhir zaman tiba, maka manusia akan cenderung bermegah-megahan di dunia dan lupa kepada Allah swt. Ternyata sekarang tidak sedikit sudah nampak hal tersebut, baik di kota besar maupun pelosok desa.
Nabi saw bersabda:
”Kiamat semakin dekat, dan keinginan manusia terhadap duniawi semakin menjadi-jadi, sedangkan terhadap Allah semakin jauh.” (HR. Imam Hakim melalui Ibnu Mas’ud)
Dalam hal ini manusia cenderung untuk bermegah-megahan dalam hidupnya, bahkan membangun sampai tinggi mencakar langit, bangunan yang sudah baik direnofasi lagi, terus menerus, sementara urusan akhirat seberapa dipentingkan. Dengan demikian berarti mengutamakan dunia daripada akhirat.
No comments:
Post a Comment